Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Friday, 9 May 2014

Strategi Belajar Mengajar dan Pendekatan Pembelajaran

Strategi pembelajaran berbeda dengan metode dan pendekatan pembelajaran. Strategi pembelajaan memiliki arti luas dari kedua istilah itu. Strategi pembelajaran merupakan rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru-siswa di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada siswa. Di dalam pola pembelajaran yang dimaksud terdapat karakteristik berupa rentetan atau tahapan perbuatan/kegiatan guru-siswa. Pola pembelajaran dikenal dengan istilah sintak.

image

Strategi pembelajaran dapat digolongkan ke dalam empat golongan., Bruce Joyce menggolongkannya ke dalam rumpun pemrosesan informasi, rumpun personal. Rumpum perilaku, dan rumpun sosial. Sedangkan Costa menggolongkannnya ke dalam strategi Directive, Mediative, Generative, dan Collaborative. Masing-masing golongan memiliki jenis-jenis strategi, dimana setiap jenis strategi itu memiliki karakteristik masing-masing, yang antara lain ditandai dengan adanya sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, dampak-dampak pembelajarannya baik langsung maupun tidak langsung.

Lebih Lanjut Download disini

Wednesday, 26 March 2014

Aplikasi Simulasi TPA OTO BAPPENAS

Catatan Kuliah--Tes Potensi Akademik atau TPA adalah sebuah tes yang bertujuan untuk mengetahui bakat dan kemampuan seseorang di bidang keilmuan atau akademis. Karenanya TPA ini sering dihubungkan dengan kecerdasan seseorang. Tes Potensi Akademik identik dengan tes GRE atau Graduate Record Examination sebagai standar internasional. Model, materi, dan bidang yang diuji dalam TPA sebagian besar merujuk kepada tes GRE. Tes GRE menjadi standar internasional syarat penerimaan mahasiswa Perguruan Tinggi.TPA biasanya diselenggarakan oleh

1) Program Pascasarjana Universitas tertentu secara independen atau

2) Unit Pelayanan Penyelenggaraan Tes Potensi Akademik (UPP-TPA) Bappenas bekerjasama dengan Program Pascasarjana Universitas tertentu. Untuk itu TPA sering disebut sebagai TPA OTO Bappenas.

Sekilas tentang TPA dan bagi yang ingin uji kemampuan TPA nya bisa mencoba software simulasi yang bisa didownload disini

Friday, 27 September 2013

Tugas I–Psikologi Kognitif

TUGAS INDIVIDU-I : Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan baik dan benar, dengan mengacu pada Refensi.

1. Dalam teori perkembangan Piaget dikenal dengan istilah-istilah “Bagan, Asimilasi, Akomodasi, Ekualibrasi”. Coba Anda jelaskan apa maksud dari ke-4 istilah tersebut secara rinci.

2. Ada empat tahap perkembangan kognitif menurut Piaget, yaitu tahap Sensorimotor, tahap Pra Operasional, Tahap Operasioanal Kongkrit, dan tahap Operasional Formal. Jelaskan secara rinci tahap-tahap tersebut disertai contoh-contohnya.

3. Sebutkan Tokoh-tokoh yang bertentangan dengan Piaget dan yang mendukung Piaget, serat kemukakan pendapat-pendapat tokoh tersebut yang bertentangan dan mendukung Piaget dalam hal berikut :

a. Ketepatan objek

b. Egosenrisme

c. Animisme

d. Konservasi

e. Tahapan Operasional Konkrit

f. Tahapan Operasional Formal

g. Faktor bahasa dan sosial

4. Jelaskan implikasi teori Piaget dalam pendidikan yang meliputi :

a. Peran Guru,

b. Kesiapan belajar,

c. Belajar aktif,

d. Belajar dari kekeliruan,

e. Interaksi teman sebaya,

f. Penggunaan materi nyata, dan

g. konsep baru.

******

Jawaban

1. Maksud dari teori piaget adalah perkembangan intelektual yang dikenal dengan istilah “Bagan, Asimilasi, Akomodasi, Ekualibrasi”, berikut penjelasan tentang istilah tersebut:

Schema/bagan adalah struktur kognitif atau serangkaian perilaku terbuka secara sistematis yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan (barang, orang, keadaan, kejadian) dan menata lingkungan ini secara intelektual. Misalnya, skema memegang adalah kemampuan umum untuk memegang sesuatu..===>>>>>>>> Lebih lanjut jawaban dapat didownload disini

Wednesday, 21 August 2013

Angket Penelitian

Contoh Angket penelitian

A. Pengantar

Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena hanya dengan lingkungan dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan angket ini sebagai pedoman pertanyaan dalam penelitian : “Pengembangan ICT dalam pembuatan media ajar dalam pembelajaran fisika SMA di Provinsi Aceh”. Sehubungan dengan penelitian ini, saya mohon kesediaan Bapak/ Ibu untuk menyisihkan sedikit waktu untuk mengisi angket ini agar penulis mendapatkan data dan informasi yang diperlukan. Atas bantuan dan kesediaan Bapak/ Ibu menjawab pertanyaan di angket ini saya mengucapkan terima kasih.

B. Petunjuk

1. Mohon Bapak/ Ibu tuliskan nama ditempat yang disediakan.

2. Mohon Bapak/ Ibu beri tanda silang (X) terhadap pertanyaan yang Bapak/ Ibu anggap sesuai.

C. Identitas Responden

Nama Guru :

Sekolah :

Lebih Lanjut Silahkan Download disini

Wednesday, 3 April 2013

PAIKEM ……?

senangPengertian PAIKEM

PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Menurut Ahmadi (2011:30) PAIKEM merupakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Menurut  Syah dan Kariadinata (2009: 1) PAIKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Selanjutnya, PAIKEM dapat didefinisikan sebagai: pendekatan mengajar (approach to teaching) yang digunakan bersama metode tertentu dan pelbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
Adapun maksud dari masing-masing kata PAIKEM menurut Suparlan dkk, (2008: 70) yaitu :

1.      Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif mengajukan pertanyaan, mengemukakan gagasan, dan memecahkan masalah.

2.      Inovatif yaitu guru harus menciptakan kondisi belajar dan kegiatan pembelajaran yang baru sesuai tuntutan dan perkembangan pendidikan.

3.      Kreatif yaitu guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.

4.      Efektif yaitu menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran yakni mencapai tujuan/kompetensi yang ditetapkan.

5.      Menyenangkan yaitu guru harus mampu menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya tinggi.

Menurut Tarmizi (2009) PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif,Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam prosespembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakandan mengemukakan gagasan. Pembelajaran inovatif bisamengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan.

A.      Hasil Penelitian PAIKEM

Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:

1.      Siswa yang terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

2.      Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan,dan cocok bagi siswa.

3.      Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan “pojok baca”.

4.      Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.

5.      Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

 

B.  Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang disajikan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.

  1. Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) adalah sebuah model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik melakukan kegiatan (proses belajar) yang beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap, dan pemahaman berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyeenangkan,dan efektif.
  2. Aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan merupakan salah satu model pembelajaran yang ideal. Metode pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif,dan Menyenangkan (PAIKEM) membantu siswa mendapatkan ide-ide sendiri dalam pembelajaran yang berlangsung dengan pendekatan lingkungan sekitar.
  3. Dampak positif diterapkannya model PAIKEM yaitu siswa dapat terpacu sikap rasa keingintahuannya tentang sesuatu yang ada di lingkungannya. Seandainya kita renungi empat pilar pendidikan yaitu yakni learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to be (belajar untuk menjadi diri sendiri), learning to do(belajar untuk mengerjakan), dan learning to live together (belajar untuk bekerjasama) dapat dilaksanakan melalui pembelajaran dengan pendekatan lingkunganyang dikemas sedemikian rupa oleh guru, agar supaya pembelajaran tersebut dapat terlaksana sesuai dengan tujuan pembelajaran

Monday, 25 February 2013

Pemilihan Model Pembelajaran Sebagai Bentuk Implementasi Strategi Pembelajaran

Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis.

Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan.

Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa. Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Contoh, setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran, didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru. Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru.

Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru. Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Di madrasah, tindakan pembelajaran ini dilakukan nara sumber (guru) terhadap peserta didiknya (siswa). Jadi, pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada para siswanya. Pada saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. Menurut penemunya, model pembelajaran temuannya tersebut dipandang paling tepat diantara model pembelajaran yang lain. Untuk menyikapi hal tersebut diatas, maka perlu kita sepakati hal-hal sebagai berikut :

1.        Siswa Pendidikan Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah banyak yang masih berada dalam tahap berpikir konkret. Model dan metode apapun yang diterapkan, pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan beberapa konsep matematika.

2.        Kita tidak perlu mendewakan salah satu model pembelajaran yang ada. Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kekuatan.

3.        Kita dapat memilih salah satu model pembelajaran yang kita anggap sesuai dengan materi pembelajaran kita; dan jika perlu kita dapat menggabungkan beberapa model pembelajaran.

4.        Model apa pun yang kita terapkan, jika kita kurang menguasai meteri dan tidak disenangi para siswa, maka hasil pembelajaran menjadi tidak efektif.

5.        Oleh kerena itu komitmen kita adalah sebagai berikut :

a.    Kita perlu menguasai materi yang harus kita ajarkan, dapat mengajarkannya, dan terampil dalam menggunakan alat peraga.

b.    Kita berniat untuk memberikan yang kita punyai kepada para siswa dengan sepenuh hati, hangat, ramah, antusias, dan bertanggung jawab.

c.    Menjaga agar para siswa “mencintai” kita, menyenangi materi yang kta ajarkan, dengan tetap menjaga kredibilitas dan wibawa kita sebagai guru dapat mengembangkan model pembelajaran sendiri. Anggaplah kita sedang melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.

Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat di capai dengan lebih efektif dan efisien.

 

Saturday, 26 January 2013

Hipotesis dan Cara Perumusan

Goresan Kuliah – pada postingan kali ini saya mencoba membahas tentang HIPOTESIS dan CARA MERUMUSKANNYA Trealese (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai suatu keterangan semnatara dari suatu fakta yang dapat diamati. Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.

Kerlinger (1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variable. Dari arti katanya, hipotesis memang dari dua penggalan. Kata “HYPO” yang artinya “DI BAWAH” dan “THESA” yang artinya “KEBENARAN” jadi hipotesis yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis.

Apabila peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara , yang kebenarannya masih perlu di uji (di bawah kebenaran). Inilah hipotesis peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis. Peneliti mengumpulkan data-datadata yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul , peneliti akan menguji apakah hipotesis yang dirumuskan dapat naik status menjadi teas, atau sebaliknya tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti.

Terhadap hipotesis yang sudah dirumuskan peneliti dapat bersikap dua hal yakni:

  1. Menerima keputusan seperti apa adanya seandainya hipotesisnya tidak terbukti (pada akhir penelitian).
  2. Mengganti hipotesis seandainya melihat tanda-tandatanda bahwa data yang terkumpul tidak mendukung terbuktinya hipotesis (pada saat penelitian berlangsung).

Untuk mengetahui kedudukan hipotesis antara lain :

  • Perlu di uji apakah ada data yang menunjuk hubungan variabel penyebab dan variabel akibat.
  • Adakah data yang menunjukkan bahwa akibat yang ada ,memang ditimbulkan oleh penyebab itu.
  • Adanya data yang menunjukkan bahwa tidak ada penyebab lain yang bisa menimbulkan akibat tersebut.

Apabila ketiga hal tersebut dapat dibuktikan , maka hipotesis yang dirumuskan mempunyai kedudukan yang kuat dalam penelitian.

G.E.R brurrough mengatakan bahwa penelitian berhipotesis penting dilakukan bagi :

  • Penelitian menghitung banyaknya sesuatu
  • Penelitian tentang perbedaan
  • Penelitian hubungan.

A. Kegunaan hipotesis

Kegunaan hipotesis antara lain

  1. Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
  2. Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian.
  3. Hipotesis memberikan arah kepada penelitian.
  4. Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan

B. Jenis-jenis hipotesis

Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian antara lain :

  1. Hipotesis kerja atau alternatif ,disingkat Ha, hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.

Rumusan hipotesis kerja

  1. Jika... Maka...
  2. Ada perbedaan antara... Dan... Dalam...
  3. Ada pengaruh... Terhadap...

2. Hipotesis nol (null hypotheses) disingkat Ho.

Hipotesis ini menyatakan tidak ada perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y

Rumusannya:

a) Tidak ada perbedaan antara... Dengan... Dalam...

b) Tidak ada pengaruh... terhadap...

Saran untuk memperoleh hipotesis:

1. Hipotesis induktif

Dalam prosedur induktif, penelitian merumuskan hipotesis sebagai suatu generalisasi dari hubungan-hubungan yang diamati

2. Hipotesis deduktif

Dalam hipotesis ini,peneliti dapat memulai penyelidikan dengan memilih salah satu teori yang ada dibidang yang menarik minatnya,setelah teori dipilih, ia lalu menarik hipotesis dari teori ini.

C. Ciri-ciri hipotesis

Ciri-ciri hipotesis yang baik:

1) Hipotesis harus mempunyai daya penjelas

2) Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel.

3) Hipotesis harus dapat diuji

4) Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.

5) Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.

D. Menggali dan merumuskan hipotesis

Dalam menggali hipotesis, peneliti harus [2]:

1) Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.

2) Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.

3) Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuaia dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.

Good dan scates memberikan beberapa sumber untuk menggali hipotesis :

1) Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam tentang ilmu

2) Wawasan serta pengertian yang mendalam tentang suatu wawasan

3) Imajinasi dan angan-angan

4) Materi bacaan dan literatur

5) Pengetahuan kebiasaan atau kegiatan dalam daerah yang sedang diselidiki.

6) Data yang tersedia

7) kesamaan.

Sebagai kesimpulan , maka beberapa petunjuk dalam merumuskan hipotesis dapat diberikan sebagai berikut :

1) Hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan padat serta spesifik

2) Hipotesis sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaraif dan berbentuk pernyataan.

3) Hipotesis sebaiknya menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat diukur.

4) Hendaknya dapat diuji

5) Hipotesis sebaiknya mempunyai kerangka teori.

Wednesday, 2 January 2013

PENDIDIKAN MODERN YANG BERAKAR KARAKTER MENYONGSONG KURIKULUM 2013

Penulis : Drs. Saminan Ismail, M.Pd (Dosen FKIP FISIKA Unsyiah)

GoresanKuliah--Hidup dan kehidupan dapat dimaknai sebagai arti dari suatu proses pembelajaran hakiki yang ianya dinafasi dengan berbagai substansi, dengan karakter sebagai basis dari penopangnya. Perilaku dan tabi’at, termaktum sebagai cetakan untuk menafsirkan pembelajaran hakiki ini sebagai model pendidikan yang mengarus-utamkan prinsip luhur dari pendidikan sebagai investasi jangka panjang, makna lain adalah memelihara azas dari pendidikan tersebut untuk menjadikan kalifah di muka bumi ini sebagai pembaharu yang mampu mendaur-ulangkan pengetahuan dan pemahaman pendidikan dari yang bersifat klasik ke pandangan pendidikan berbasis modern yang sarat dengan perubahan peradaban akhlak dan moral, tentunya ini dapat dijadikan referensi untuk evolusi peradaban pendidikan dengan makna pembelajaran hakiki sebagai katalis dan akidah, iman, dan taqwa sebagai landasan pembelajaran pendidikan.

Sekalipun ide tersebut diatas dapat dimaknai sebagai argumen penyelenggaraan pendidikan modern, namun ianya harus pula dibalut atau diisi dengan kaidah pendidikan kejiwaan sebagai salah satu unsur penguatannya, dalam tabiat yang luas dapat dipahami bahwa kaidah ini disarafi oleh unsur saling menghargai (mutual respect) dan saling memproteksi (mutual protecting). Dua variabel ini tentunya tidak akan dapat muncul kalau nilai luhur iman dan taqwa kepada sang Khaliq belum menjadi bagian ruh dari perjalanan setiap hidup manusia. Kalaupun iman dan taqwa tersebut sudah berjalan beriringan dengan fisik dan ruh manusia, maka ianya juga harus seirama dengan sikap, perilaku/kebiasasan, toleransi dan akidah yang harus selalu dijunjung tinggi.

Dalam pandangan modern konsep tersebut diartikan sebagai kekuatan baru untuk mensinergikan pendidikan modern dengan pembelajaran hakiki, tentunya dalam konteks ini pendidikan karakter menjadi penyeragam yang dibangun dari jiwa yang sebenarnya dengan hati sebagai indikator. Dalam perspektif Islam, nilai luhur jiwa tersebut dipindahkan dari Al-Qur’an, Sunah dan Ijtihad, guna membimbing pengikutnya agar taat jiwa dalam mengamalkan, menjalankan, dan mengaplikasikan doktrin islamisasi pendidikan. Dua pandangan ini memiliki makna dan fungsi satu sama lain, namun dalam proses alirannya, dua pandangan tersebut selalu terintegrasi dan bersinergi, dengan maksud untuk mengurangi tensi negatif dari azas pendidikan itu sendiri sebagai parajut jiwa dan akhlak untuk mendermakan demi kemajuan pengetahuan yang dapat diaplikasikan untuk kepentingan pembangunan manusia, alam, bahkan bumi tempat kita diami. Dengan harapan, pengembangan model pendidikan tersebut yang berbasis karakter ini dapat menjadi akar untuk merajut dan menjalarkan ke dan seluruh sistem serta mekanisme penyelenggaraan pendidikan, sehingga carut-marut pendidikan kita sekarang ini tidak lagi menularkan untuk kemajuan dan kepentingan pengembangan pendidikan kedepan, tentunya pembelajaran hakiki sebagai konsep untuk melayani pendidikan modern.sebagaimana harapan dalam kurikulum 2013 yang menitik beratkan pada nilai prilaku, nilai kepribadian, budi pekerti atau lebih dikenal dengan pendidikan karakter.

Pendidikan Modern

. Makna filosopi pendidikan (education of philosophy) secara harfiah menseimbangkan perilaku, mental, dan hawa nafsu, termasuk pengendalian hati untuk memperoleh kehidupan yang menyenangkan dunia dan akhirat. Tentunya dalam kontek kehidupan yang sebenarnya (truely of life) pendidikan itu sendiri dimaknai sebagai proses pembenaran hati dan pensucian jiwa untuk mematron diri menjadi sebenar-benarnya kalifah yang berguna di alam jagat raya ini. Dalam kaidah pembelajaran yang sebenarnya (truely of learning) pendidikan itu sendiri sebagai aset investasi jangka panjang untuk meletakkan jati diri sebagai manusia pembaharu dan mampu menempatkan sebagai hamba yang taat azas hidup, tentunya yang paling wahid mengikuti perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Sekalipun ketiga pandangan tersebut telah mengisyaratkan sebagai patron lahirnya konsep pendidikan modern, namun kadang-kadang pondasi filosopi dari pendidikan itu sendiri sering diabaikan bahkan tidak didayagunakan, sehingga kecenderungan paradok ketika diimplementasi. Ke-paradok-kan itu terlihat dari output proses pendidikan modern seperti adanya tawuran siswa, demo anarkis mahasiswa, pemalsuan nilai, bahkan memproduksi institusi pendidikan berbasis komersialisasi, dengan mengesampingkan model dan modal prinsip-prinsip penyelenggaran pendidikan modern. Harapan lain dari capaian pendidikan modern ini adalah mewujud dan mengembangkan suasana serta proses pembelajaran kepada peserta didik untuk lebih aktif mengembangkan kapasitas, kualitas dan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang arif (jujur), kecerdasan yang bersahaja, akhlak mulia, keterampilan dan kecakapan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam banyak teks dan pemikiran Barat yang dapat saya sarikan, bahwa pendidikan modern merupakan jelmaan dari kegagalan model pengembangan pendidikan klasik, namun ada juga yang menafsiran bahwa pendidikan modern sebagai bagian dari pendidikan klasik untuk menseimbangkan peradaban pendidikan yang cenderung berubah corak seiring perubahan paradigma berpikir ratusan juta manusia yang bermukim di muka bumi ini. Dalam pandangan ini saya menyebutkan bahwa pendidikan modern tersebut justru lahir dari kegagalan negara-negara modern memproteksi generasi mereka untuk menjalankan pendidikan sebagai basis pembaharu termasuk, perubahan lingkungan, budaya dan psiko-sosial masyarakat tersebut. Tentunya, sebagai negara berkembang seperti Indonesia dan Aceh secara khusus dengan Islam sebagai perajut pendidikan dapat dimaknai bahwa pendidikan modern itu sendiri merupakan derivat dari kekuatan nilai-nilai islam dengan Al-Qur-An dan hadist sebagai pemandu untuk membangun dan menciptakan pendidikan yang taat azas dan bijak untuk dijadikan referensi peyangga hidup.

Konsep Pendidikan Modern Berakar Karakter (PMBK) merupakan replekasi, relokasi serta cloning dari perubahan dan kegagalan pendidikan dengan konsep klasik yang kurang menempatkan prinsip agamais dan Qurani (islam) serta nilai spiritual sebagai filosopi gerakan pembaharu dengan basis pendidikan sebagai barometer. Fenomena ini menjadi lebih berarti jika karakter menjadi perajut untuk menseimbangankan antara gagasan, emosional, nafsu, dan perilaku ketika pendidikan dinafikan sebagai unsur utama dari pencerdasan emosional, nafsu, dan sikap serta perilaku itu sendiri. Dalam konteks ini pendidikan modern yang berakar karakter menjadi acuan pustaka dalam perencanaan pendidikan sebagai investasi jangka pendek, menengah bahkan jangka panjang. Untuk itu, dari berbagai referensi yang saya koleksi dengan beberapa argumen telaah, maka secara harfiah pendidikan modern dengan basis karakter dirancang selain untuk menstimulus prinsip hidup dan kehidupan sebagai praktek pendidikan yang sebenarnya juga sebagai kontrol untuk menjamin bahwa pendidikan tersebut tetap mengakar nilai dan norma spiritual dengan Islam sebagai patron baku.

Akar Pendidikan Karakter

Ruh, jiwa dan fisik menjadi piranti penting dalam pencitraan pendidikan karakter, karena ia jelmaan dari bukti lahirnya akhlak, perangai/tabi’at, akidah, moral, dan tingkah laku yang bersahaja pada setiap individu yang memahami pendidikan sebagai potret hidup dari sebuah kehidupan yang sebenarnya dengan prinsip menyerahkan diri kepadaNya, berbuat dan berbakti kepada alam dan makhluk yang mendiami di alam jagat raya ini. Tentunya konsep tersebut dapat direplikasikan sebagai perangkat dari transformasi pendidikan modern berakar karakter dengan religius-spiritual sebagai penjalinnya dan Al-Qur-an, hadist serta Peuteuah Ulama sebagai perajut dan penuntun, agar pendidikan yang berakar karakter dapat benar-benar dijiwai dari pendidikan ruh, pendidikan jiwa, dan pendidikan berbasis pada mental-spiritual. Ketiga konsep pendidikan tersebut perlu saya justifikasi substansinya untuk menseimbangkan makna harfiah pendidikan modern berbasis karakter dengan prinsip pendidikan klasik sebagai referensi, dimana pada pendidikan klasik tersebut tidak menjalankan ketiga konsep tersebut secara bersamaan, sehingga mental pendidikan hanya berorientasi kepada kebutuhan, sekalipun dalam implementasinya tetap tajam namun tidak diilhami dengan pendidikan ruh, pendidikan jiwa apalagi pendidikan mental-spiritual, sehingga sering dikatakan bahwa konsep pendidikan klasik tersebut berhasil dalam tindakan, namun gagal dalam implementaisnya. Para ahli pendidikan barat telah terjaga untuk memadukan konsep pendidikan modern sebagai basis penyelamat generasi. Di Amerika Serikat, kehadiran sejumlah ulama tersohor dari Timur Tengah telah memberikan warna tersendiri dunia pendidikan di Amerika Serikat saat ini, salah satunya Ulama terkenal Turki Fedullah Gulen, yang berhasil memikat para pencari Tuhan khalifah Amerika Serikat untuk mengenal diri yang sesungguhnya melalui proses transpormasi pendidikan karakter yang diilhami dengan pendidikan ruh, jiwa, dan mental-spriritual sebagai perubah pola pikir.

Pendidikan ruh, pendidikan yang disarati dengan tuntunan dari sang Khaliq .Pola pendidikan ini menempatkankan manusia sebagai makhluk yang selalu berpikir akan kebesaran, keesaan dan keangungan Ilahi Rabbi karena dengan Kudrah-IradahNya telah menjadikan planet bumi untuk dihuni oleh berbagai makhluk hidup dengan segala keragamannya. Dalam catatan lain, pendidikan ini pula di akari dengan pendidikan iman, taqwa, akidah, moral, perilaku dan pendidikan mengenal sifat-sifat Allah SWT, ajaran kenabian serta peuteuah Ulama. Mental dan interaksi dengan lingkungan juga menjadi penentu dari perkembangan fase pendidikan ini, dimana mental yang berbasis pada agamais dapat menjadi penentu dari kecakapan spiritual, sikap bahkan perilaku terhadap lingkungan dan makhluk lainnya.

Pendidikan jiwa, dalam perkembangannya pendidikan jiwa ini distimulus oleh pendidikan ruh yang bernilai guna untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas diri dalam arti lain memproteksi diri untuk mengenal jiwa yang sesungguhnya untuk menghambakan diri kepada pencitpta “Habluminallah” (hubungan dengan Allah SWT) dan berbaik diri sesama manusia atau makhluk hidup lainnya “Habluminanas” (hubungan dengan manusia). Setelah memahami hakikat hidup tersebut kemudian menjadikan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sebagai referesi penyelenggaraan pendidikan secara hakiki, makna lain adalah Wahyu yang telah diterima Nabi Muhammad SAW dan kemudian di pustakakan dalam Al-Qur An Nurkarim dan disarikan dalam pandangan Al-Hadist dapat dijadikan sebagai penuntun sekaligus perajut pendidikan jiwa yang dapat memberikan momentum untuk membentuk Akhlakulkarimah yang merupakan landasan lahirnya pendidikan jiwa.

Setelah dasar-dasar pendidikan keesaan Allah SWT dan Kenabian ini dijadikan sebagai penyangga, maka selanjutnya diperlukan proses pendidikan untuk mengenal jati diri termasuk pendidikan mengorganisir nafsu dan emosi untuk memperoleh kekuatan positif guna menghindari hidup celaka didunia dan memperoleh tuntunan untuk hidup selamanya di akhirat. Untuk penguatan kapasitas diri dalam pendidikan jiwa ini dilalui fase dengan pendidikan intelektualitas keilmuan yang sejatinya dapat menjadi penyeimbang dalam perkembangan jiwa untuk mengenal lingkungan secara menyeluruh maupun perilaku menghargai lingkungan sebagai unsur pembentuk jati diri.

Pendidikan mental-spiritual, fase pendidikan ini dinafasi oleh dogma pendidikan jiwa sebagai acuan transpormer pendidikan. Pendidikan ini pula mengajarkan kita untuk selalu taat azas hidup dan kehidupan dengan agama sebagai dasar-pijaknya. Dalam perspektif lain, menggerakan perilaku kita untuk mengabdikan diri kita kepada makhluk hidup, bumi dan alam sekitarnya serta mengabadikan perilaku pendidikan tersebut untuk dijadikan referensi bagi dan untuk kepentingan manusia lainnya. Dalam catatan pemikir islam abad 16-17 menyebutkan bahwa pendidikan mental-spiritual sebagai jembatan dari keberlangsungan dan keberlanjutan pengembangan ilmu pengetahuan. Makna filosopi dari pemahaman tersebut dapat saya asusmsikan bahwa pendidikan bersifat mental-spiritual ini adalah meregenerasi dan mendaur-ulangkan proses ini sebagai pengontrol untuk menjamin keberlanjutan pendidikan modern yang berakar karakter guna membentuk pembelajaran pendidikan yang hakiki untuk umat manusia.

Keberhasilan dari penularan prinsip pendidikan modern ini tidak serta-merta dapat berlangsung seketika, namun ia membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, materi bahkan emosi yang matang, karena konsep dari pendidikan modern ini cenderung paradoks dengan budaya, tabiat hidup, perilaku masyarakat modern yang cenderung mempopulisakan simbol bukan pada substansi, maknanya, mereka hidup sudah/tanpa lagi dibatasi dari kaidah hidup sebagai manusia yang sebenarnya sebagai makhluk yang paling tinggi derajat diantara makhluk lainnya ciptaan Allah SWT. Tantangan lainnya adalah tren hidup dan keseimbangan kemajuan teknologi yang mampu menukikan pendidikan dan cenderung menonjolkan demokrasi kebebasan, dan ini tantangan yang harus dileburkan sehingga pendidikan modern berakar karakter dapat dijalankan dan diterima oleh berbagai komponen stakholder pembangunan di Aceh secara khsusus dan Indonesia secara umum dalam menyongsong kurikulum 2013. Semoga!!!